Beranda | Artikel
Salah Satu Rahasia Kejayaan Umat Islam Zaman Dahulu Syaikh Saad al-Khatslan #NasehatUlama
Selasa, 20 Desember 2022

Wahai Saudara-Saudara, wakaf merupakan salah satu rahasia
kemajuan kaum Muslimin di masa lalu.
Dulu negara Islam hanya fokus membiayai penjagaan keamanan dalam negeri
dan keamanan luar negeri, serta peradilan antar masyarakat saja.

Adapun hal-hal lainnya bertumpu sepenuhnya pada harta wakaf.
Pendidikan bertumpu pada wakaf, kesehatan bertumpu pada wakaf, pembangunan jalan juga bertumpu pada wakaf.

Seluruh layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat bertumpu pada harta wakaf.
Negara hanya membiayai keamanan dalam dan luar negeri, serta peradilan.

Hal ini berpengaruh pada majunya peradaban Islam,
karena kaum Muslimin memberi perhatian besar kepada wakaf
dan berlomba-lomba untuk melakukannya.

Wakaf adalah jalan paling baik untuk membelanjakan harta.
Dalilnya adalah ketika Umar radhiyallahu ‘anhu meminta saran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
tentang harta paling berharga yang pernah ia dapatkan dalam hidupnya.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankannya untuk mewakafkannya.
Para ulama berkata, “Orang yang dimintai saran adalah orang yang mendapat amanah.

Andai saja ada hal yang lebih utama daripada wakaf,
niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya kepada Umar.”
Makna “wakaf” secara bahasa adalah “menahan”.

Unsur kata “wakaf” berkutat di sekitar makna “menahan”.
Sedangkan secara istilah, wakaf adalah menahan harta dasar dan menyumbangkan manfaatnya.

“Menahan” yakni menahannya dari diubah bentuk dengan dijual, dihadiahkan, dan lainnya.

Sedangkan “harta dasar” yakni harta yang dapat dimanfaatkan dan tetap bertahan wujudnya,
seperti benda tidak bergerak, dan lainnya.

Adapun makna “menyumbang” yakni melepaskan (memberikan) manfaatnya.
Yakni produk yang dihasilkan dari harta dasar tersebut.
Wakaf yang paling agung adalah wakaf masjid-masjid.

Semua masjid termasuk harta wakaf.
Masjid mana pun termasuk harta wakaf.

Perbedaan paling jelas antara masjid dan mushalla
adalah tanah masjid adalah tanah wakaf, sedangkan tanah mushalla adalah tanah milik pribadi.

Dulu para sahabat punya perhatian besar kepada wakaf,
seperti yang kita sebutkan tentang wakafnya Umar bin Khattab.
Dikatakan bahwa itu adalah wakaf pertama dalam Islam.

Mayoritas sahabat juga mempunyai harta yang diwakafkan.
Oleh sebab itu, Jabir berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mampu kecuali ia pasti berwakaf.”

Demikian juga dengan generasi setelahnya, dari kalangan para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in.

====

الْوَقْفُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَعْنِي هُوَ مِنْ أَسْرَارِ

نَهْضَةِ الْمُسْلِمِينَ فِي الْعُصُورِ الْمَاضِيَةِ

وَالدَّوْلَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ قَدِيمًا كَانَتْ تُعْنَى بِحِفْظِ الْأَمْنِ الدَّاخِلِيِّ

وَالْخَارِجِيِّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَقَطْ

وَأَمَّا بَقِيَّةُ الْأُمُورِ فَتَعْتَمِدَ اعْتِمَادًا كُلِّيًّا عَلَى الْأَوْقَافِ

التَّعْلِيمُ كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَى الْأَوْقَافِ الصِّحَّةُ عَلَى الْأَوْقَافِ بِنَاءُ الطُّرُقِ عَلَى الْأَوْقَافِ

جَمِيْعُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْمُجْتَمَعُ مِنَ الْخِدْمَاتِ عَلَى الْأَوْقَافِ

الدَّوْلَةُ فَقَطْ حَفِظَ الْأَمْنَ الدَّاخِلِيَّ وَالْخَارِجِيَّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ

فَأَدَّى هَذَا إِلَى ازْدِهَارِ الْحَضَارَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ

لِأَنَّ الْأَوْقَافَ الْمُسْلِمُونَ يَعْتَنُوْنَ بِهَا عِنَايَةً كَبِيرَةً

وَيَتَنَافَسُوْنَ عَلَيْهَا

وَالْوَقْفُ هُوَ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الْأَمْوَالُ

وَالدَّلِيْلُ ذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا اسْتَشَارَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي أَنْفَسِ مَالٍ أَصَابَهُ فِي حَيَاتِهِ

أَشَارَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَقْفِ

قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ

لَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنَ الْوَقْفِ

لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ

وَالْوَقْفُ مَعْنَاهُ فِي اللُّغَةِ الْحَبْسُ

مَادَّةُ الْوَقْفِ تَدُوْرُ حَوْلَ مَعْنَى الْحَبْسِ

وَاصْطِلَاحًا تَحْبِيسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ

تَحْبِيسٌ يَعْنِي الْإِمْسَاكُ عَنِ التَّصَرُّفَاتِ مِنَ الْبَيْعِ وَالْهِبَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ

وَالْأَصْلُ هُوَ مَا يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ

كَالْعَقَارَاتِ وَنَحْوِهَا

أَمَّا مَعْنَى تَسْبِيْلٍ يَعْنِي إِطْلَاقٌ إِطْلَاقُ الْمَنْفَعَةِ

يَعْنِي الْغَلَّةُ الْغَلَّةُ الْخَارِجَةُ عَنْ ذَلِكَ الْأَصْلِ

وَأَعْظَمُ الْأَوْقَافِ الْمَسَاجِدُ

كُلُّ الْمَسَاجِدِ تُعْتَبَرُ أَوْقَافًا

أَيُّ مَسْجِدٍ يُعْتَبَرُ وَقْفٌ

وَأَبْرَزُ الْفُرُوْقِ أَبْرَزُ الْفُرُوقِ بَيْنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُصَلَّى

أَنَّ أَرْضَ الْمَسْجِدِ مَوْقُوفَةٌ وَأَرْضَ الْمُصَلَّى مَمْلُوكَةٌ

كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لَهُم عِنَايَةٌ كَبِيرَةٌ بِالْأَوْقَافِ

وَكَمَا ذَكَرْنَا عَنْ وَقْفِ عُمَرَ

قِيلَ إِنَّهُ أَوَّلُ وَقْفَةٍ فِي الْإِسْلَامِ

وَأَيْضًا يَعْنِي مُعْظَمُ الصَّحَابَةِ كَانُوا كَانَتْ لَهُمْ أَوْقَافٌ

وَلِذَلِكَ يَقُولُ جَابِرٌ لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُو مَقْدِرَةٍ إِلَّا وَقَّفَ

وَهَكَذَا مَنْ كَانَ بَعْدَهُ مِنَ التَّابِعِينَ وَالتَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ بِإِحْسَانٍ


Artikel asli: https://nasehat.net/salah-satu-rahasia-kejayaan-umat-islam-zaman-dahulu-syaikh-saad-al-khatslan-nasehatulama/